Wabup Kediri Terpilih Hadiri Kenduri Ageng Wilis

By Dinas Kominfo Kab. Kediri15 Feb 2021, 20:00:09 WIB Kesehatan, Sosial dan Lingkungan Hidup
Wabup Kediri Terpilih Hadiri Kenduri Ageng Wilis

Pelestari Kawasan Wilis (Perkawis) Kediri mengadakan acara Kenduri Ageng Wilis di Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Dalam acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Kediri terpilih, Dewi Mariya Ulfa.

Kegiatan Bakti Alam ini melalui aksi konservasi. Dalam kegiatan itu dilakukan penanaman sebanyak 500 pohon yang diikuti oleh 50 peserta dari Pelestari Kawasan Wilis serta digelar bursa produkorganik hasil pertanian wargaDesa Pagung.

"Hari ini saya menghadiri acara Kenduri Ageng masyarakat Wilis yang diselenggarakan oleh Perkawis mewakili Mas Bupati di Desa Pagung, Kecamatan Semen. Pesan Beliau pada pemerintahan kami nanti akan menggalakkan penghijauan dan penertiban terhadap penebangan liar bekerjasama dengan TNI dan Polri. Karena dampak dari penebangan liar menyebabkan banjir, tanah longsor dan hilangnya sumber air," kata Dewi Mariya Ulfa.

MasihkataKetua Fatayat NU Kabupaten Kediri ini, di Desa Pagung juga sudah mulai menggalakkan pertanian organik, dari padi merah, padi hitam hingga sayur-sayuran organik.

"Terima kasih atas support dan bantuan Dinas Pertanian, DLHKP, Perhutani, Pemdes Pagung, sahabat-sahabat Perkawis dan seluruh pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Ayo kita tanam dan pelihara pohon. Salam Lestari. Salam Kediri Menang," tambahnya.

Sementara itu,  Tofan Ardi, Ketua Umum Pelestari Kawasan Wilis (Perkawis) Tunggal Rogo Mandiri (Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, dan Kediri), menjelaskan bahwa acara ini digelar dengan mengusung tema 'Kagem Wilis' yang merupakan Akronim dari 'Untuk Wilis' yang bermakna dedikasi dan kontribusi dari masyarakat untuk Wilis.

Menurut Tofan Ardi, 'Kagem Willis' juga merupakan singkatan dari Kenduri Ageng Masyarakat Wilis, ini dilakukan sebagai bukti dan kontribusi warga untuk semakin peduli, menjaga, dan melindungi hutan. Kenduri, lanjut Tofan, dalam tradisi masyarakat Jawa juga berarti Slametan, yang secara simbolis di gambarkan dalam wujud tumpeng (berbentuk kerucut) menyerupai gunung.

Tambahnya, spirit ini mengusung paham ecosentris (sebuah kesadaran bahwa sebagai manusia, hendaknya tidak mengedepankan egosentris) melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia harus peduli terhadap alam.

"Masyarakat di lereng Wilis hendaknya sadar bahwa Gunung Wilis, bukanlah obyek yang harus dieksploitasi melainkan menempatkan Wilis sebagai subyek yang harus dijaga dan dilestarikan," tutupnya. (*)




Tinggalkan komentar Anda via Disqus