Pengrajin Barongan Tuai Berkah Saat Pandemi Covid

By Dinas Kominfo Kab. Kediri15 Jan 2021, 18:00:24 WIB Pariwisata, Seni dan Budaya
Pengrajin Barongan Tuai Berkah Saat Pandemi Covid

Akibat dampak pandemi covid 19, berbagai pertunjukan ataupun kesenian yang menghadirkan banyak masa memang masih dilarang, tak terkecuali pertunjukan kesenian jaranan. Namun siapa sangka, seorang pengrajin barongan asal Desa Panjer Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, justru menuai berkah.

Rata-rata dalam sebulan semenjak wabah covid melanda, tak kurang dari 4 buah pesanan barongan datang dari berbagai kota di tanah air. Ia adalah Sujali, seorang laki-laki renta yang sejak 2008 silam konsen menggeluti usaha pembuatan barongan. Selain itu, ia juga menerima berbagai pesanan penunjang pertunjukan kesenian jaranan atau kuda lumping seperti, pakaian barong, jaran kepang, celengan bahkan topeng ganongan.

Dengan berbekal kayu cangkring yang ia peroleh di hutan, kemudian ia pahat menjadi sebuah karya seni yang bernilai ekonomis tinggi. Ia menggunakan kayu cangkring karena kayu tersebut mempunyai beban yang ringan danlebih mudah dibuat barongan.

"Diameter barongan 22 hingga 24 centimeter. Kalau menggunakan kayu cangkring suara yang dihasilkan lebih merdu, selain itu untuk proses pahatannya juga mudah karena kayunya tersebut bersifat ringan," kata Sujali.

Harga yang ia patok untuk sebuah barongan dan pakaiannya bekisar antara Rp. 3.800.000 hingga Rp. 4.000.000. Selain dari Kabupaten dan Kota Kediri, pesanan barongan datang dariTulungagung, Gresik, Surabaya, Jember, Pasuruan dan Malang. Selain itu, tak jarang pesanan juga datang dari luar indonesia seperti dari Hongkong dan Malaysia.

Menurut Sujali, saat ini ia sangat kewalahan menerima pesanan, bahkan sebagian ada yang ditolak karena keterbatasan tenaga pembuat barongan. "Saya ditemani istri sebagai penjahit baju barongan dan anak saya yang mendapat bagian untuk mengecat barongan, sedangkan saya yang melakukan pahatan. Sebenarnya pesanan sangat banyak namun dalam satu bulan saya hanya mampu menyelesaikan 4 buah barongan saja karena keterbatasan tenaga," kata Sujali.

Dari kreasi barongan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kerap mengikutkannya dalam pagelaran keseniantermasukeventtari 1000 barong.

"Terakhir mengikuti tari 1000 barong di Simpang Lima Gumul tahun 2018 silam, saya mengeluarkan 47 barongan,"tutup Sujali. (Kominfo/fd,tee,tj,wk)




Tinggalkan komentar Anda via Disqus

Tinggalkan komentar Anda